DEMI ANAK, SAYA HARUS BANGKIT

Namanya Khairawati, seorang perempuan yang telah berhasil keluar dari masa sulitnya setelah ditinggal oleh mantan suaminya tahun 2008, sehingga membawa Khaira, begitu perempuan ini biasa disapa, berhasil mendapatkan sertifikat cerai dari Pengadilan Agama kabupaten Pidie tahun 2012, setelah sekian lama statusnya terkatung-katung. Usaha yang dilakukannya tidak sia-sia, karena selain mendapatkan hak asuh anak yang saat itu masih berumur enam tahun, juga membawa perempuan anak pertama dari empat bersaudara ini lepas dari belenggu penderitaan akibat perlakuan mantan suaminya.

Khaira lahir 11 Oktober 1980, sekitar 38 tahun yang lalu hanya mampu menamatkan pendidikan formal setingkat SMU saja. Keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi tidak terlaksana, berhubung tidak ada biaya karena ayahnya hanya seorang nelayan biasa. Setelah tamat sekolah Khaira mencoba berwirausaha dengan berjualan pisang goreng dengan membuka kios kecil di pinggir jalan lintas desa, tepatnya di depan Meunasah desa Blang Meunasah Teungoh, kecamatan Kembang Tanjong, Pidie.

Khaira menikah tahun 2005, tepatnya pada usia 25 tahun. Awalnya rumah tangganya berjalan layaknya pasangan pengantin baru lainnya sampai dengan anak pertama mereka lahir. Diawal perlakuan suami Khaira begitu manis, dan perlahan mulai berubah sejak tahun 2008. Khaira kerap mengalami kekerasan fisik, dalam kehidupan rumah tangganya tidak ada pembagian peran yang adil, seperti yang dijalankan oleh orangtuanya sendiri. Khaira hingga saat ini masih tinggal bersama dengan orangtuanya. Ayahnya seorang nelayan sangat jarang berada dirumah, namun jika sudah dirumah selalu menyempatkan diri mengerjakan beberapa hal, walaupun menurut budaya itu bukan pekerjaan laki-laki, seperti mengasuh anak, memasak dan lain-lain. Karena memiliki perbedaan pandangan dan kurangnya pengertian dar suami hal ini juga yang menjadi alasan Khaira untuk berpisah dari suaminya. Setelah bercerai kehidupan Khaira begitu terpuruk, sehingga pada suatu saat Khaira berkata pada dirinya sendiri “demi anak, aku harus bangkit dari penderitaan ini”. Hal ini dibuktikan oleh Khaira yang dulunya seorang perempuan lugu, sekarang menjelma menjadi perempuan yang cerdas, mandiri dan mampu keluar dari segala penderitaannya.

Tahun 2016 Khaira mulai bergabung menjadi bagian salah satu anggota kelompok dampingan Flower Aceh, sebagai Ketua Kelompok. Sejak saat itu banyak pengetahuan yang didapat seperti tentang manajemen kelompok, tentang kesehatan perempuan, hak-hak perempuan, masalah gizi dan simpan pinjam credit union. Jauh sekali dengan ajaran yang diterima dari orangtuanya bahwa istri harus taat pada suami, suami adalah segala-galanya, jika ada kesalahan suami maka tidak boleh diceritakan pada orang lain, karena itu adalah aib, dan banyak petuah lainnya yang semakin membuat posisi sang suami menjadi yang utama.

Dari pengalaman hidup yang dijalani Khaira membawanya untuk bersikap lebih dewasa menyikapi persoalan-persoalan yang dihadapinya. Baginya perempuan bukan sumber masalah, hargailah pendapat perempuan, hormatilah perempuan, karena setiap manusia lahir dari rahim seorang perempuan.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*