Wawancara dengan Direktur Flower Aceh tentang Program FLower-Serasi di Aceh Utara

foto direktur

  1. Seberapa sesuaikah kegiatan yang dilakukan lembaga dengan yang telah direncanakan ?

Hampir semua kegiatan yang dilakukan dalam program Flower-Serasi sesuai dengan workplan yang telah disusun dalam proposal dan perencanaan awal yang sudah dilakukan pada periode hibah sehingga semua capain yang diharapkan dapat dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di 6 desa di aceh utara. Perubahan kecil hanya terletak pada waktu pelaksanaan karena harus disesuaikan dengan jadwal ril di lapangan. Namun perubahan waktu (line time) tidak terlalu jauh dengan yang sudah disepakati.

  1. Pemilihan Calon Penerima manfaat sebagai bagian dari Program, Apakah kriteria pemilihan tersebut telah sesuai?

Penerima Manfaat pada program Flower-Serasi adalah perempuan korban konflik. Kriteria yang Flower jadikan pedoman untuk program Flower secara keseluruhan adalah perempuan yang memiliki kiteria sebagai berikut :

  • Perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga.
  • Perempuan korban konflik/bencana
  • Perempuan dari perkotaan miskin
  • Perempuan dari desa terpencil
  • Perempuan miskin (memiliki ekonomi rendah)
  • Perempuan janda (kepala keluarga)
  1. Apakah kriteria pemilihan tersebut efektif saat implementasi Program?

Sangat efektif, karena sebelum menjalankan program ini, tim Flower Aceh (staf) melakukan assessment awal ke lapangan untuk mengidentifikasi calon penerima manfaat untuk program ini.

  1. Apakah Flower Aceh melibatkan pemerintah daerah atau stakeholder lainnya? Bagaimana bentuk keterlibatan mereka?

Untuk program ini, Flower ada melibatkan pemerintahan daerah (Aceh Utara) dalam pelaksanaan kegiataan. Misalnya : Flower pernah melibatkan Dinas Badan pemberdayaan Perempuan dan Anak Aceh Utara sebagai narasumber dalam kegiatan Seminar tentang sosialisasi hak-hak perempuan dan tanggung jawab negara yang dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2009. Pada awal kegiatan program Flower Aceh juga melibatkan aparat pemerintahan di masing-masing desa pada saat kegiatan sharing program (Sosialisasi dan Bangun Kesempatan) di bulan Maret 2009. Komunikasi yang dibangun adalah mengunjungi aparat pemerintahan setempat (di masing-masing desa) untuk menjelaskan maksud kedatangan Flower kedesa tersebut dan menjelaskan program yang akan dijalankan. Flower Aceh juga membangun komitmen di masing-masing desa dengan tetap melakukan kegiatan pemberdayaan perempuan di masing-masing desa secara reguler dan anggota masyarakat yang masuk dalam kelompok dampingan Flower Aceh akan menjadi bagian dari Flower Aceh. Selain unsure di atas Flower juga membangun kerjasama dengan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak Aceh Utara agar bisa membantu pemerintah dalam upaya pemenuhan hak-hak masyarakat khususnya hak perempuan.

  1. Apakah ada lembaga lain yang bekerja di daerah program Flower Aceh? Bagaimana Flower Aceh berkomunikasi dan berhubungan dengan mereka?

Ada beberapa lembaga yang punya wilayah sama dengan program Flower-Serasi. Namun komunikasi yang dibangun belum secara optimal terjalin.

  1. Apakah Flower Aceh telah berhasil mencapai tujuan akhir yang ditetapkan dalam Program ini?

Tujuan program ini adalah membangun kapasitas kelompok perempuan di 6 gampong Kabupaten Aceh Utara, dalam memperkuat ekonomi keluarga dan keterlibatan perempuan dalam proses-proses pembangunan dan perdamaian di wilayahnya.

Sampai saat sekarang hasil/dampak dari program ini yang dirasakan oleh kelompok perempuan berdasarkan kegiatan yang telah dilakukan adalah; sudah adanya keterlibatan perempuan dalam kegiatankegiatan di desa, dan juga rapat-rapat di desa. Kaum perempuan/ibu-ibu di masing-masing desa sudah berani mengutarakan pFlower Acehpat dalam setiap kegiatan diskusi. Kaum perempuan di masing-masing desa sudah memiliki semangat untuk maju, dan sangat antusias terhadap setiap kegiatan yang dilakukan oleh Flower Aceh baik itu workshop, seminar dan pelatihan-pelatihan.

Untuk peningkatan ekonomi, kaum ibu-ibu di masing-masing desa sudah bisa menjalankan usaha kecil yang dulu pelaksanaannya tidak bisa terwujud karena tidak mendapatkan modal, maka sekarang ibu-ibu tersebut sudah bisa menjalankan usaha yang diinginkan dengan modal usaha yang diperoleh dari Flower Aceh yang sifatnya pinjaman.

  1. Apa sajakah tantangan yang ditemui Flower Aceh dan bagaimana mengatasinya?

Tantangan yang dihadapi saat implementasi kegiatan adalah :

Menghadapi pola pikir korban konflik yang sangat keras, yang selalu merasa curiga dengan program yang sedang dijalankan.

Penyesuaian waktu kegiatan yang harus mengikuti jadwal masyarakat.

Ketakutkan masyarakat akan janji-janji yang diberikan, karena takut tidak terealisasikan.

Isu gender yang dianggap kebarat-baratan yang dianggap dapat merubah budaya dan kebiasaan masyarakat.

Tantangan diatas dapat diatasi Flower dengan cara menepati semua janji yang diutarakan, pelaksanaan kegiatan yang sesuai dengan yang sudah direncanakan serta pendekatan secara emosional dengan melakukan kegiatan live in di masing-masing desa, sehingga kedekatan secara kekeluargaan bisa terjalin.

Apakah ada Cerita sukses dalam pelaksanaan Program Flower-Serasi

4 orang perempuan dari kelompok dampingan FA telah masuk dalam struktur pemerintahan gampong.

Kelompok perempuan telah berani mengungkapkan pendapatnya seperti sudah berani meminta tanah wakaf gampong untuk dikelola oleh kelompok perempuan, dengan sistem bagi hasil antara kelompok dan desa.

Dukungan dari perangkat desa dengan memperhatikan usulan anggaran untuk perempuan ditingkatkan.

Akan membentuk koperasi dengan modal bantuan yang diberikan oleh Flower Aceh.

Mulai terbuka bicara soal kekerasan yang terjadi di kelompok. Sudah berani tampil didepan umum contohnya ibu keucik Tumpok Beurandang yang dulunya hanya dirumah dan tidak pernah ikut kegiatan sekarang sudah berani dan dapat meng-organisir kelompok dan sudah diperhitungkan sebagai tokoh perempuan.

  1. Apa pembelajaran yang amat sangat penting selama pelaksanaan Program?

Pembelajaran yang dapat dipetik dari pelaksanaan hibah ini adalah memahami karakter korban konflik tidak sama dengan menangani korban bencana. Banyak yang harus dilalui agar korban konflik bisa menerima apapun yang akan kita berikan untuk mereka. Penderitaan yang mereka rasakan termasuk yang paling lama setelah masa konflik berakhir.

Ilmu yang mereka dapatkan dari berbagai kegiatan merupakan hal yang paling berharga bagi mereka, karena sebelumnya mereka belum pernah mendapatkan hal yang serupa.

Perencanaan yang matang dan baik akan menghasilkan kegiatan yang baik pula.

Membangun komunikasi dengan pihak yang menentang pelaksanaan program juga bagian dari kesuksesan program, sehingga mereka dapat mendukung kegiatan yang dilakukan.

Tokoh-tokoh yang menjadi kontra dari pelaksanaan kegiatan justru dijadikan vokal poin dalam pelaksanaannya.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*